~ Re-post from my fanfiction.net Arsasa Aokidemi ~
Summary: “Kami ingin agar kau bersama Conan menyelidiki
sebuah mansion yang katanya ditinggali orang-orang mencurigakan.” Alex Rider tahu
bahwa ia tidak bisa membiarkan anak itu masuk ke dunia MI6 yang penuh bahaya.
Crossover DC & AR. Good bye lexazurider, hello Arsasa Aokidemi.
.
Nafas orang
itu masih saja terengah-engah. Dia berusaha menyeret kakinya keluar dari
kegelapan, menuju ke luar sana. Namun tubuhnya terlalu berat untuk digerakkan,
sementara kesadarannya hilang selapis demi selapis.
“Mau ke mana
kau?” bisik sosok lain yang berdiri di belakangnya. Posturnya tinggi besar,
dengan helaian perak melambai dari balik topinya. Revolver ada di tangan kanan,
sementara pisau yang berlumuran darah di tangan kiri.
“Hhh...
hhh... aku... aku akan... AARGGH!” belum sempat dia menjawab, peluru itu
meluncur tanpa suara membuat sarang di punggungnya. Darah kembali mengalir,
mengotori lantai semen putih yang kasar dan tidak rata.
“Kau akan
bernasib sama dengan ayahmu.”
Orang yang
terluka itu mendengus pelan. Seiring dengan nafasnya yang memendek setiap
waktu, dia masih saja berusaha berbicara. “K-kau... lihat saja... a-akhirnya...
kau a-akan kalah... dan ter... tang... kap...”
“Huh!” si
rambut perak tersenyum kecut. “Maaf, aku tak punya karangan bunga untukmu. Mungkin
hanya ini yang bisa kuberikan.” Diletakkannya sebuah kotak di depan wajah orang
tersebut.
A-ap-apa? Bom... waktu...?!
Rambut perak
berlalu dengan cepat dari sana, tepat ketika sirine mobil polisi dan ambulans
mulai bernyanyi. “Selamat tinggal,” ucapnya datar.
Sosok di
dalam gelap itu merasa takut, tapi dia
juga merasa yakin dengan sesuatu. Dia membiarkan dirinya terhanyut dalam
kesakitan dari serangan peluru dan pisau. Dipejamkannya mata.
A-aku tahu, ‘dia’ pa-pasti akan...
m-menghancurkan mereka...
5.
4.
3.
2.
1.
0.
DUAR!
Semua hancur
bersama kelamnya langit malam.
.
.
A first fic with pen
name Arsasa Aokidemi and a good bye
fic for lexazurider.
.
JUST A CHILD
[By: Arsasa Aokidemi]
Disclaimer: AR
& DC © Anthony Horowitz & Aoyama Gosho
Warning: Alternate
Reality. Crossover. Trying not to be OOC (Out Of Character).
Genre: Friendship, (a
bit) Angst, Hurt/Comfort.
Rate: T
[Jika Anda menemukan
masalah lain dengan fanfiksi ini, sampaikan di kotak review. Saya akan mengepost ulang (re-post) ini di blog fanfiksi saya. Jadi jika Anda menemukan blog
yang menuliskan fanfiksi ini, silahkan tanya saya. Saya akan pastikan bahwa itu
adalah blog saya, bukan plagiat]
.
.
‘Cause we’re just a
child
We just wanna live happily with our family
And we want to build our dreams
We’re just a child
(JUST A CHILD © Arsasa Aokidemi)
.
.
.
Kadangkala
keteraturan bisa membuatmu terlalu perfeksionis. Dan kadangkala keteraturan
bisa membuatmu gila.
Bagi Alex
Rider, seorang Alan Blunt adalah keteraturan abu-abu. Ya, karena segala sesuatu
di dalam ruang kerjanya abu-abu. Gray
suit, gray face, gray furniture and... gray life. Tapi toh, seberapapun
Alex membenci sosok itu, Blunt juga manusia. Hanya itu yang bisa membuat Alex
masih bertahan menghadapi ‘bos’nya itu. Apa yang membuat Alex kesal adalah ia kembali
harus menginjakkan kaki di kantor Royal & General yang menyamarkan markas
MI6... di liburan musim panas. Hal tipikal yang dilakukannya selain hidup dan
belajar. Tapi sebenarnya masih merasa tidak jelas terhadap statusnya. Pemuda biasa
berumur 14 tahun berkewarnegaraan Inggris atau agen inteligensi yang termuda?
Keduanya? Entah.
Begitu pintu
ruangan itu terbuka, pemandangan yang nyaris sama setiap kali dia datang
menyergap kedua matanya.
Mrs. Tulip
Jones dan peppermint yang sangat disayanginya.
Seperti teddy bear milik anak-anak
kecil. Hanya saja, itu bukan boneka.
Lalu masih di balik meja kerjanya, si orang datar. Dia tak punya akselerasi
senang di wajahnya, yang ada mungkin akselerasi penuaan karena terus saja
memasang wajah datar. Bukan datar seperti televisi flat, tapi benar-benar datar dan kosong.
“Selamat
pagi, Alex,” sapa Mrs. Jones. Wanita yang sering mengkhawatirkan Alex itu
berdiri di dekat pintu sambil membawa beberapa map dalam genggamannya.
“Hmm,
selamat pagi.”
Alex duduk
di hadapan Blunt dengan malas-malasan. Prosedur yang sama ketika orang nomor
satu MI6 itu akan memberinya suatu misi baru. Keteraturan—seperti frasa di awal
tadi—dapat membuatmu bosan. Dan Alex memang sudah
terlalu bosan dengan keteraturan tipe Alant Blunt. Keteraturan abu-abu yang
absurd.
“Aku ingin
memperkenalkan seseorang kepadamu,” ujar Blunt memulai, “Dia adalah anggota
yang aku rekrut untuk bekerjasama denganmu.”
“Tunggu,”
Alex memotong, “Apa hubungannya orang ini denganku?”
Blunt
mengangguk ke arah Mrs. Jones, memintanya menyerahkan sebuah map bening ke
tangan Alex. Di sana terdapat berlembar-lembar deskripsi tentang seseorang...
dan juga foto yang di klip di ujung kanan atas. Mata Alex langsung bergerak
seperti scanner, memindai. Foto yang disertakan itu membuatnya
sedikit bergidik. Foto anak kecil berwajah Jepang, berambut hitam, bermata
biru, dan berkacamata.
Anak kecil?
Blunt ikut
menjelaskan sembari Alex membaca data-data tersebut. “Namanya Conan
Edogawa-Kudo. Anak kedua dari pasangan Yusaku dan Yukiko Kudo. Kau tahu
keluarga Kudo?”
Alex
berusaha mengingat-ngingat. Dia pernah mendengar nama itu dulu, ketika dirinya
masih duduk di bangku sekolah dasar. “Kalau tidak salah, Yusaku itu penulis
novel terkenal... Night Baron, dan
juga detektif. Istrinya adalah mantan aktris. Tapi aku tidak begitu tahu
tentang anak mereka.”
“Shinichi
Kudo, si bungsu, adalah detektif terkenal di Jepang. Dijuluki Holmes jaman
Heisei,” tambah Blunt, “Sementara adiknya adalah Conan ini.”
Alex
menyandarkan dirinya sambil melipat sebelah kakinya. Data-data itu
dipelajarinya seperti sedang membaca sebuah novel. Alan Blunt yang sudah
terbiasa dengan sikap acuh tak acuh dari keponakan Ian Rider tersebut
meletakkan tiga buah foto lain di atas meja. Terdapat sebuah nama dan penjelasan
pendek di bawah foto.
Code name: VERMOUTH. Seorang
wanita yang memiliki rambut platina
blonde. Aktris.
Code name: GIN. Pria berambut perak dan bermata
tajam. Orang kepercayaan Anokata.
Code name: VODKA. Pria
berkacamata hitam. Mungkin memiliki hubungan saudara dengan Gin.
Semuanya mengenakan pakaian gelap. Ekspresi
wajah mereka juga sama seperti orang di depanku ini, pikir Alex. D-a-t-a-r.
“Chris
Vineyard,” Alex meraih foto si wanita. “Aktris Amerika, putri tunggal Sharon
Vineyard.”
Blunt
mengangguk.
“Sharon bukannya
sudah meninggal?” tanya Alex. “Dan nama Chris sekarang sudah jarang terdengar.”
“Ya. Tapi
ada kabar sumbang yang terdengar tentangnya. Katanya dia bersama kedua lelaki
ini,” ditunjuknya kedua foto yang lain, “Adalah anggota dari sebuah perkumpulan
rahasia. Perkumpulan yang melakukan kejahatan terencana dan tidak berbekas sama
sekali. Black Organization. Selain
itu, ada hubungan aneh antara organisasi ini dengan keluarga Kudo. Yusaku, si
kepala keluarga, berusaha membongkar rahasia Black Organization dan menangkap ketua mereka yang dipanggil
Anokata.”
Sepertinya
Alex mulai memahami ke mana isi pembicaraan ini mengarah.
“Tapi
sayangnya,” —meski Blunt mengatakan ‘sayangnya,’ air mukanya tidak mencerminkan
tanda-tanda sedih sama sekali— “Ketiga anggota keluarga Kudo terbunuh 3 minggu
yang lalu. Yusaku dan Shinichi meninggal karena tertembak dan tertikam ketika
menggrebek tempat yang diduga markas Black
Organization. Sementara Yukiko ditemukan tewas diracun di rumahnya, diduga
ia dibunuh orang-orang Black Organization
agar bungkam.”
“Hanya Conan
yang luput dari mereka,” Alex mengambil kesimpulan.
Blunt meraih
ketiga foto itu kembali dan menyimpannya. “Conan pernah tertangkap, tapi ia
berhasil kabur. Dia bersembunyi di rumah salah satu kawannya. Dia tahu hal itu
takkan bertahan lama, jadi dia berusaha menghubungi MI6. Hari ini adalah hari
pertamanya di Inggris.”
“Apakah aku
harus menjadi babysitter baginya?”
Alex bertanya seakan-akan hal itu memang terjadi.
Perkataan
Alex tersebut sepertinya hanya dianggap angin sepoi-sepoi yang menumpang lewat.
“Kami mendapat kabar bahwa belum lama Black Organization melakukan pekerjaan mereka di negara ini. Bisakah kau tebak, siapa rekan baru mereka?”
“Kami mendapat kabar bahwa belum lama Black Organization melakukan pekerjaan mereka di negara ini. Bisakah kau tebak, siapa rekan baru mereka?”
Alex terdiam
sejenak. Namun otaknya merangkai sebuah nama. Assassin yang pertama kali bertemu dengannya saat kasus
Stormbreaker. “Yassen Gregorovich?”
“Tepat.”
Jantung Alex
tiba-tiba saja berdetak lebih cepat.
Nama itu. Nama itu. Nama itu. Nama
itu lagi...
“Kami ingin
agar kau bersama Conan menyelidiki sebuah mansion yang katanya ditinggali
orang-orang mencurigakan. Rata-rata adalah mahasiswa, dan mereka menyewa
tempat—semacam mengontrak—di sana. Pemilik mansion itu memiliki ciri-ciri mirip
seperti Chris Vineyard,” kata Blunt.
Alex
menggumam, “Apa nama mansion itu?”
Mrs. Jones
yang sedari tadi diam saja memberikan sebuah map lain berisi setumpuk kertas,
“Namanya Secreta Mansion. Terletak di Harminghay Road, sekitar 2 bulan yang
lalu dibangun. Pemiliknya bernama Felloza Emily, wanita berusia 26 tahun dan
berkewarnegaraan Amerika.”
“Mansion
rahasia? Spanish name,” komentar
Alex. Memang kemampuan bahasa pemuda itu tidak diragukan lagi.
Mansion itu
bercat biru kusam dan dilapisi lumut di beberapa bagian, serta terdiri dari 3
lantai. Pintu gerbangnya berwarna hitam legam dan tak lagi berkilau. Terdapat
hiasan patung singa kayu di dekat pintu masuk. Pepohonan lebat menutupi
sekeliling mansion tersebut, dan jalan setapak dari batu sudah pudar tertutup
tanah.
Kemudian
Alex menatap foto si pemilik mansion.
Felloza
Emily. Mancung, berkulit putih pucat. Bibirnya tipis, nyaris tidak terlihat
kalau saja di foto itu ia tidak mengenakan lipstick
merah menyala. Alis cokelatnya tebal dan nyaris menyatu di tengah seperti
Frida Kahlo. Rambutnya dicat warna-warni: biru di bagian poni sampai ke tengah,
pirang di sisi kanan telinga, lalu sisanya rambut cokelat kemerahan—mungkin
rambut aslinya. Agak absurd untuk penampilan seorang wanita berumur 26 tahun.
Blunt
berdeham, “Chris alias Vermouth dikenal sebagai ahli menyamar.”
“Conan
sendiri bagaimana? Katamu dia tiba di Inggris hari ini?”
Blunt
menatap arlojinya, kemudian melirik Mrs. Jones yang sedang menelepon
seseorang, “Jones?”
“Dia sudah
ada di perempatan dekat sini,” jawab Mrs. Jones sambil mematikan telepon
genggamnya. “Sekitar 5 menit lagi sampai.”
“Baik.
Terima kasih.”
“Anak kelas 5 SD? Kau yakin?” Alex
mengutarakan pertanyaan yang masih menyangkut di cerebrum bagian frontal alias
dahi. Tempat dimana manusia meramu pikirannya.
Blunt hanya menyilangkan
tangan di depan dada. Bahasa tubuh menolak. Alex paham betul, Blunt tidak pernah ingin dan tidak akan bisa dibantah. Berarti dia
yakin untuk mengancam kelangsungan hidup anggota keluarga Kudo yang termuda
itu, Conan Edogawa-Kudo. Berarti dia yakin untuk menyerahkan satu manusia lagi
ke dalam sebuah ancaman yang bernama kematian.
“Tunggulah
sebentar lagi, kau akan bertemu anak itu,” Blunt menutup percakapan.
To Be Continued
.
.
.
‘Cause we’re just a child
We just wanna live with those
happy memories
Although the truth isn’t same
We’re just a child
.
.
.
.
Terima kasih telah membaca~!
A.R.S.A.S.A. – A.O.K.I.D.E.M.I.
(picture source: familycourtservices.org)
(picture source: familycourtservices.org)


Hmm ini karya kamu? hehe ayo lanjutin yah
ReplyDeleteeh blognya jarang du update yah? update dong x)
Iya XD
DeleteMaklum nih, mulai banyak tugas di kelas 9. Tapi akan kuusahakan ngepost pas ada waktu ^^
Aduuh aku ga connect nih, kok aku ga ngerti sama ceritanya
ReplyDelete