Thursday, July 19, 2012

JUST A CHILD (Chapter 2: Tea Time)


Sorry for late update... I’m a bit busy and very tired today but yeah... I want to continue this fic :D
Hope you enjoy!
(Btw, I forgot to say tell that in this fic, Conan is grade 5, not grade 1 as Aoyama-sensei made. And setting after Point Blanc, but there’s no Jack here. Thanks.)
Disclaimer:
Alex Rider © Anthony Horowitz
Detective Conan/Case Closed © Aoyama Gosho
.
.
.
..forgive us cause we’re just a child...
.
.
.
JUST A CHILD
[a fic by: Arsasa Aokidemi]
.
.
Kecil adalah kata yang pertama kali tertulis di benak seorang Alex Rider begitu melihat Conan Edogawa-Kudo berdiri di depannya. Ya, memang cukup kecil dan mungil, apalagi dibandingkan dengan Alex sendiri.
Sebenarnya, penampilan anak itu biasa-biasa saja. Rambut hitam yang ditata biasa, kacamata besar yang bertengger di depan hidungnya, kemeja putih dilapis kaos hitam, celana jeans, dan sepatu sneakers. Ah ya, tak ketinggalan sebuah tas ransel hitam. Tapi Alex bisa melihat satu hal yang ‘tak biasa’ di sana.
Kedua bola mata birunya yang begitu bersahaja dan cerdas. Bukan hal yang lazim bagi seorang anak kelas 5 SD.
“Silahkan duduk,” Mrs. Jones mempersilahkan. Sekilas, Conan melirik ke arah Alex. Kemudian ia memusatkan perhatiannya kepada Blunt. Sepertinya dia memutuskan untuk tidak bicara sepatah kata pun.
Blunt merapikan jasnya sedikit, “Kita langsung saja. Aku akan mengulangi penjelasan yang kuberikan kepada Alex sebelumnya. Kalian kami tugaskan untuk menyelidiki mansion mencurigakan bernama Secreta Mansion.”
Conan menatap foto itu tanpa berkedip.
“Pemiliknya, Felloza Emily, kami curigai terlibat dengan dua buah organisasi kejahatan berskala besar di Inggris dan Jepang,” Blunt menunjuk foto wanita berpenampilan absurd tersebut.
Black Organization?” tanya Conan dengan Bahasa Inggris yang fasih. Wajahnya berubah tegang sedikit.
“Juga SCORPIA,” imbuh Alex.
Alan Blunt menganggukkan kepala, “Ya, Black Organization dan SCORPIA. Kami mencurigai mereka menyelundupkan sejumlah obat-obatan terlarang dan senjata ilegal di dalam sana. Kami ingin kalian menyelidiki mansion ini lebih lanjut. Setelah itu, kami akan memutuskan bagaimana tindakan selanjutnya. ”
“Lalu...  bagaimana caranya kami menyelidiki?” sahut Conan.
“Kami telah menyiapkan identitas baru. Kalian akan tinggal di Secreta Mansion untuk sementara, sebagai kakak-adik,” Blunt menolehkan kepala ke arah Mrs. Jones. Wanita itu langsung menyerahkan dua buah map lain ke atas meja. “Di dalam map itu juga ada informasi lebih lanjut tentang Secreta Mansion. Pelajari ini baik-baik selama 3 hari sebelum kami mengirim kalian.”
Alex menggumam. Diraihnya map tersebut dan dibukanya.
Nama                          : Edgar Edondery.
Umur                          : 20 tahun.
Ciri-ciri fisik                : Tinggi, rambut hitam, mata cokelat.
Keluarga                     : -Martin Edondery (ayah).
                                      -Hikaru Edondery (ibu).
  -Laurence Edondery (adik).
Latar belakang           : Yatim piatu sejak umur 10 tahun, ketika adiknya masih bayi. Awalnya Edgar dan Laurence tinggal bersama pamannya di Jepang, tapi pindah ke Inggris karena Laurence ingin melanjutkan pendidikannya di Cambridge University. Saat ini mencari tempat tinggal dan memutuskan untuk mengontrak selama beberapa waktu di Secreta Mansion.
Kepribadian               : Agak urakan tapi sopan terhadap orangtua, rajin, percaya diri.
Kebiasaan                  : Tidak suka bangun pagi.
3 lembar berikutnya masih dipenuhi dengan detail identitas Alex sebagai Edgar. Musik favorit, olahraga favorit, sampai makanan favoritnya juga tertulis.
Alex baru saja ingin bertanya, namun ternyata Conan telah membuka mulut duluan, “Berapa lama waktu yang kau berikan bagi kami untuk menyelidiki Secreta Mansion?”
Ternyata pertanyaan kami sama, batin Alex.
“Sekitar 2 minggu,” jawab Blunt. “Seperti biasa, Smithers yang akan memberikan perlengkapan yang dibutuhkan kalian untuk menyelidiki.”
2 minggu, pikir Alex. Menghadapi misi... bersama seorang anak kecil, yang lebih kecil daripada diriku sendiri.

***
“Kau tidak ikut training? Maksudku pelatihan?”
Pertanyaan itu terucap ketika Alex dan Conan sedang duduk di teras sebuah cafe kecil. Mereka menikmati beberapa kue kecil, karena sekarang adalah waktunya minum teh atau tea time bagi orang Inggris.
“Pelatihan apa?” Conan bertanya balik. Dahinya mengerut.
“Pelatihan... dengan SAS atau Secret Agent Service. Mmm, K-Unit dan semacamnya itu ,” Alex menyahut sambil meraih sepotong biskuit dan menggigitnya.
“Oh,” Conan langsung mengerti ke mana pembicaraan mengarah, “Tidak. Mrs. Jones yang memintaku untuk tidak ikut. Blunt terpaksa setuju, tentu saja. Kau sendiri... sudah berapa lama kau menjadi agen MI6?”
“Sejak pamanku meninggal,” balas Alex singkat.
“Ah. Maaf,” sahut Conan.
“Tak apa... orangtuamu juga...” Alex tak melanjutkan kata-katanya.
“Ngomong-ngomong, Smithers itu siapa?” Conan mengubah topik pembicaraan.
“Dia itu,” Alex tersenyum mengingat pria bertubuh besar yang memiliki wajah kocak tersebut, “Orang yang bertugas menciptakan alat-alat canggih. Waktu itu dia membuat Nintendo DS yang juga berfungsi sebagai x-ray. Lalu ketika aku pergi ke Point Blanc, dia membuat CD Player yang bisa berubah menjadi gergaji elektrik ketika dimasuki CD Beethoven... pokoknya alat-alat semacam itu.”
Conan manggut-manggut. Dikunyahnya sandwich miliknya, “Berarti dia sama seperti Profesor Agasa.”
“Profesor... A-aga apa?” Alex kebingungan mengeja nama Profesor Agasa.
“Agasa. A-ga-sa,” eja Conan. “Dia ilmuwan agak aneh yang tinggal di sebelah rumah kami. Dia bertugas menciptakan alat-alat untuk kelompok detektif cilik. Contohnya skateboard milikku. Sayang aku tak membawanya sekarang, nanti akan kutunjukkan.”
Alex terkejut, “Kau anggota detektif cilik? Kau... detektif? Detective, as Sherlock Holmes did?
“Yea,” Conan nyengir puas, “Holmes is my idol. He’s smart and brave. You know, our detective group is similar with... Baker Street Boys. Kami diajari Shinichi-nii untuk menyelidiki dan menjadi detektif yang baik.”
Alex terkesima mendengarnya. Rupanya hubungan kakak-adik Kudo ini cukup erat.
Tampaknya Conan merasa nyaman mengobrol dengan Alex, “Jadi... kita harus berperan sebagai kakak-adik? Aku merasa lucu.”
“Kenapa?”
“Aku pernah memiliki kakak, dan sekarang aku punya kakak baru,” meski air mukanya terlihat sedih, Conan tertawa. “Yah, setidaknya tidak akan sulit untuk menjadi Laurence Edondery. Aku hanya perlu mengenakan kacamata ini seperti biasa dan bertindak menjadi anak biasa.”
“Mmm... teman-temanmu di grup detektif cilik sekarang ada di mana?” tanya Alex sambil menyesap Coke.
“Keempatnya masih berada di Jepang,” Conan menerawang, mengingat kenangannya dengan grup detektif cilik. “Salah satu dari mereka adalah adik-dari-mantan-anggota Black Organization, namanya Ai Miyano. Aku dan dia sudah bersahabat dekat sekali. Shinichi-nii dan Shiho-nee juga sempat berpacaran. Tapi setelah Shinichi-nii... mm... meninggal, Shiho-nee juga dilenyapkan organisasi itu.”
Conan menelan ludah sesaat, sementara Alex masih mendengarkan dengan seksama.
“Lalu Ai lenyap. Dia hilang dari sekolah, kabur dari rumah Profesor Agasa yang merawatnya... tanpa meninggalkan petunjuk satupun. Dia membawa serta barang-barangnya. Sampai sekarang, aku tak tahu di mana dia berada. Apakah dia menerima bantuan yang diberikan FBI atau tidak,” Conan mengangkat bahu perlahan.
Alex merasa anak ini begitu mirip dengan dirinya. Kehilangan orangtua... saudara dekat... ditinggalkan teman... harus menghadapi bahaya... semua hal itu harus dialami oleh mereka berdua. Tanpa punya kesempatan untuk hidup bahagia sedikit saja.
“Aku tak pernah percaya dongeng,” ucap Conan getir. “Mereka selalu mengatakan they lived happily ever after di akhir cerita, tapi mengapa semua itu nihil? Mengapa semua itu kata-kata belaka? Hhh... I’m bored with my life, but I STILL life. Aku bahkan sudah tak tahu tujuan hidupku apa.”
Mata birunya yang biasa berkilau tiba-tiba terlihat sendu. Ekspresinya pun tak bersemangat lagi.
Alex bingung harus menjawab apa. Dia bukan psikolog seperti Eagle, rekannya di K-Unit. Dia hanya seorang pemuda berumur 14 tahun yang ‘terdampar’ di MI6. Dia hanya Double-O-Nothing, kata Wolf dulu. Dan masih ada ribuan kata yang diawali ‘dia hanya’ untuk menggambarkan seorang Alex Rider.
Sebuah pemikiran berkecamuk di otak Alex, sementara mereka masih duduk menikmati angin temaram di sana.
Manusia sudah gila.
.
.
.
.
...to be continued...
.
.
A/N:
So sorry about the late update! I’ve been so busy this week, because it’s my first week on grade 9. Yeah, finally. I will have a National Exam next year, and continue my life as a Senior High School student.
AND SOOOO SORRY FOR SHORT CHAPTER! #Caps O_O Akhir-akhir ini saya agak mengalami ide macet. Tapi saya usahakan agar fic ini tetap update.
Thanks for all your reviews! For this chapter, would you like to hit that review button again? ^^
[] sign, Arsasa Aokidemi []

No comments:

Post a Comment

Powered By Blogger